| — | #review ATS ESQ |
Hari ini aku merasakan setengah dari pendengaranku seakan lenyap dari telinga kiriku. Serasa sebuah gumpalan menyumpal lubang telingaku. Tak jarang telinga ini juga sakit bila ditekan. Kejadian beberapa minggu lalu itu baru sekarangaku rasakan dampaknya. Pasalnya, telinga ini sempat tertusuk cotton bud (padahal cotton bud lembut lho) sampai terasa sakit kala itu. Kemudian tak kurasa lagi (mungkin saat itu sedang proses inflamasi). Tapi lama kelamaan, telinga ini seolah tertutup dan tak nyaman untuk mendengar. Hingga hari ini, mama sang ‘dokter THT’ anaknya, mencoba melihat apa gerangan di dalam sana. Ternyata benarlah, ada luka disana, dan dalam hampir menutup seluruh lubang telinga. Mencoba dibersihkan oleh mama, tapi, semakin ke dalam semakin berisiko.
Tapi, dibalik ini semua, aku yakin, Allah sedang menguji aku. tentang aku yang kurang mensyukuri nikmat pendengaran dari Allah ini. Oh Allah, ampuni aku ..
PR selanjutnya.. Dokter THT beneran pengen dikunjungin kayanya, haduuh.. >_<
Hari ini hari yang didambakan mahasiswa FIK tentunya. Bagaimana tidak, kesempatan libur hari ini karena kuliah besar Prof. Elly dan praktikum tidak jadi diadakan mengingat dosen mata kuliah KD 5 mengawasi ujian kakak-kakak profesi. Senangnya :D
Mungkin Allah memang memiliki rencana terbaiknya. Kepergian ibu ke kampung 3 hari yang lalu karena menghadiri pernikahan saudara, membuat bapak jadi harus bekerja sendirian di kantin SD. Betapa tidak, bapak sangat kehilangan peran ibu yang selama ini membantunya dalam berjualan. Dan hari ini aku libur, senangnya bisa bantu bapak :D yaa begitulah mungkin Allah mengatur, sedemikian Allah memudahkan jalan aku membantu bapak.
Akan tetapi, dari pagi-pagi buta saat aku membantu bapak di kantin, sesuatu hal yang tidak diagendakan tiba-tiba datang. Sebuah SMS dari nomor yang tak dikenal masuk ke handphoneku. Undangan dari Badan Otonom Suara Mahasiswa UI (Red: SUMA UI) untuk wawancara liputan seputar persiapan Kesejahteraan Mahasiswa (Red: Kesma) menghadapi penerimaan mahasiswa baru.
Terkadang, langkah ini terasa berat. Ketika baru saja kutemui sebuah hari dimana hari itu kosong akan kegiatan kampus, tiba-tiba, panggilan itu selalu datang. Panggilan yang menyangkut tentang ‘pekerjaan’ yang aku cintai di bidang ini. Panggilan yang terkadang mendadak, dan butuh pengorbanan. Pekerjaan yang menuntut kesiapsiagaan, totalitas, loyalitas, tanpa pamrih, dan pastinya tetap care karena itu landasan utama. Kapan dan dimanapun, dituntut tampil menjadi pribadi yang responsibel terhadap amanah. Dan aku siap, aku siap dengan apa yang aku kerjakan, aku siap dengan pekerjaan yang aku cintai.
Lalu, cukupkah sebatas pribadiku saja yang siap? Bagaimana jika orang tua tidak mengizinkan? kegiatan kampus yang ‘bejibun’? Maka karenanya, merupakan suatu anugerah yang sangat luar biasa, aku diberikan orang tua yang mengerti aku. Padahal, secara derajat pendidikan, beliau (red: bapak) tidak pernah mengenyam pendidikan seperti yang aku duduki sekarang. Tapi, bapak tampaknya tahu kesibukan mahasiswa, dan butuh seperti apa dipahami. Padahal, mungkin bapak tak pernah sekolah parenting untuk mengetahui apa yang dibutuhkan anak saat melalui masa-masa kecilnya. Yang ada hanyalah rasa kasih dan sayang bapak yang nilainya lebih tinggi dari cinta yang bapak miliki kepada seorang anaknya. Yang ada hanyalah, tanggung jawab bapak menjadikan puterinya menjadi ‘seseorang’ yang kelak cita-citanya tercapai dengan dukungan doa dari orang tuanya. Yang ada hanyalah, seorang bapak yang berharap agar ketika masih dalam kandungan, telah ia doakan agar puterinya itu menjadi anak yang shalih dan shalihah sampai ke akhirat kelak. Menjadi keluarga tidak hanya di dunia tapi jauh sampai menuju surga. Berkumpul dengan seluruh keluarga yang di dunia dan di akhiratnya saling menyanyangi.
Bapak, aku merasakan hati bapak, saat aku diantar ke kampus oleh motor butut kepunyaan bapak, sejak zaman aku TK dulu. Hati bapak beserta motor sebatang kara itu, setia menemani perjalanan pendidikanku dari kecil hingga dewasa. Saat aku minta kau antar tadi pun, padahal hari hujan, tapi engkau dengan setia, mengantarkan aku ke Tebet dengan jas hujan seadanya.Setiap hari. Tak kenal lelah, Tak kenal musim, Tak kenal waktu, entah pagi buta, siang terik, hingga sore petang, atau bahkan malam gelap, engkau selalu siap menjemputku kapan aku perlukan. Bahkan badai halilintar sekalipun, engkau ikhlas keluar rumah berbasah hujan demi anakmu.
Bapak, akankah aku temukan sosok pria seperti dirimu. Yang rela berkorban demi keluarga, demi anak, meraih Ridho illahi melalui titipan Allah, anak seperti kami. Yang sabar dan tak kenal alasan apapun untuk tidak menjemput aku maupun adik-adikku setiap harinya.
Mungkin, sesekali bapak pernah protes, terhadap diriku yang tak pernah berhenti dalam sepekan untuk tak meninggalkan rumah. “Nak, kalau ga terlalu penting, lebih baik dirumah buat istirahat.” Mendengar kata-kata itu, ingin rasanya menumpahkan air mata haru dengan kekhawatirannya pada anak. Begitu sangat perhatiannya bapak, mengingtakan aku supaya mengatur pola istirahat yang baik. Walau terkadang, aku juga tak dapat mengelak panggilan yang datang dan membutuhkan kontribusi di luar yang besar dibandingkan harus merebahkan sejenak memanjakan tubuh ini. Tapi setelah itu, bapak tak pernah lagi bertanya atau bahkan memaksa untuk aku tidak jadi pergi. Bapak tetap ikhlas mengantarkanku dan selalu mengatur meluangkan waktu untuk agenda-agendaku.
Bapak, akankah aku mendapati pria seperti dirimu.. Wajarlah jika aku berdoa meninginkan seperti ini.. Karenanya orang yang berdoa itu akan dikabulkan Allah :D
Wallahu ‘alam bisshowab
Semoga Allah senantiasa menjagamu di setiap langkah hidupmu, sampai engkau diwafatkan, hingga hari kebangkitkan, ridho Allah menyertai dirimu..
Doakan aku supaya aku bisa menjadi anak shalihah, yang mampu memberikan doa saat ada atau tidak adanya engkau.. Doa yang mampu menyeleamatkan orang tuanya menjauh dari api neraka..
Terakhir, semoga Allah mengumpulkan keluarga kita dalam Surga-Nya yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.. Aamiin.. :’)
Bapak, hatimu yang selalu berdenyut dalam nadiku..

